Hujan renyai-renyai menembusi tingkap kereta atas highway Federal. Sambil menyedut chocolate cream chip extra whip cream extra chocolate syrup starbucks, ditemani playlist Bil Musa. Tepat masanya lagu Leave It All, LRT kelana jaya line menusup lalu. Ada motor yang berhenti berteduh, ada yang redah membasahi kuyup satu badan. Dia tersenyum dari tingkap yang terkena gerimis hujan. Menghayati apa yang depan mata. Macam-macam.
Hujan semakin lebat. Cuaca semakin gelap. Senja.
Where are you? Jom ngopi?
Bibirnya mengukir lesung pipit sebelah pipi kirinya sambil menggelengkan kepala. Satu teks yang ditunggu-tunggu tapi tak diharapkan. Satu kedatangan yang tak diundang tapi datang mengetuk pintu lalu bila diberi masuk sesuka hati pergi dan datang tanpa izin. Cuma satu idea yang kalau menjadi betul memang antara sesuatu yang indah. Tapi cerita kalau, Hayati pun akan pergi memilih Zainuddin daripada calon suami pilihan keluarga. Cerita kalau, Cinta sempat selamatkan sahabatnya yang hampir bunuh diri ketika sedang bahagia dilamun cinta bersama Rangga.
Dia kembali menatap tingkap yang meninggalkan sisa-sisa hujan gerimis tadi. Hujan yang tadinya semakin lebat jadi hilang. Awan-awan bergerak keluar memberi ruang untuk sang bulan.
Hujan pun boleh berubah secepat itu, apatah lagi hati manusia yang serba-serbi kekurangan? Fikirnya. Masih lagi sayup-sayup lirik Bil Musa, life isn't easy cause I thought that it would be the twist and turns are so unexpected. Masih menatap lock screen yang tak dibuka. Diam. Lama. Sampai lagu yang 4 minit sudah di minit yang kedua, I mean, the heart wants what it wants, I tried hard to stay away but I simply can't.
Siap-siap memasukkan buku "Girl, Wash Your Face" sambil menyisip sehelai tisu dalam lembaran yang ke 53 dengan terburu-buru. Menyimpan earpod memasukkan dalam poket sebelah kiri lalu mengeluarkan iPhone 5s usangnya,
Jom. Mano?
Little did she know. That was the same mistake, over again.