Bintang, lihat kami
Pipi lenguh-lenguh, kebas. Aku pun bingung sama ada sebab ketawa atau malu. Tapi yang aku tahu, yang aku pasti, bintang sedang cemburu dengan aku-- yang sedang peluk erat kehangatan ini. Yang sedang memandang lurus wajah itu. Dalam banyak-banyak bintang, sosok bintang itu lah kegemaranku. Senyuman itulah penawarku. Suara itu juga ketenanganku.
Bintang, lihat kami
Realiti terasa jauh sekali. Semua ini juga rasanya bukan mimpi. Tapi betul, dia memang ada disini. Bukan cuma di dalam hati, tapi di sini. Di tepi.
Kami ketawa.
Bercanda.
Ketawa lagi.
Indahnya, ya Rabbi.
Bintang, lihat lagi.
Kami bahagia. Walau cuma sementara. Cilaka, masa pun mencemburui kita. Aku tak peduli. Atas batu ini, tepi air terjun deras, bawah taburan bintang memenuhi langit. Kami menatap bintang.
"You suka bintang?"
"Suka gila."
"Nak satu?"
"Nak."
"Bintang mana boleh simpan bintang."
Semuanya bersahaja. Datang dengan tiba-tiba. Tak minta apa-apa. Cuma bintang, lihat kami. Lihat kami. Cuma kali ini.