Sedih yang paling perit adalah sedih yang tidak bersebab. Kecelakaan yang terburuk adalah pada saat-saat tidak tertolong.
I met few new friends that share the same experience and thoughts about things. Its good to have those mutual feelings about shitty people being their shitty self in shitty moment. Lagi-lagi bila kau boleh share the same playlist, even the song sounds like shit but the lyrics.. yang sama-sama boleh relate tersusuk dalam jiwa paling dalam. Lagi-lagi kau boleh sama-sama shout your lungs out together to let go of 1/4 things you afraid to express. Sekali gus.
Everything is gonna be okay.
Kalau ini paling sakit, tolong, beri yang paling perit. Kalau ini paling susah, beri yang paling tak terduga.
Tapi sakit ini paling celaka. Sakit yang sentiasa sakit. Going through things when it hurts, when it still hurting but you choose to keep going. No, the heart want it wants. It chooses to keep going. Not me. Orang melayu kata,
Ikut hati, mati.
Slowly dying I guess. The fact that I feel blessed and content for what I have now but hurting inside.. Is this really a contented feeling? Rasa syukur itu kan subjektik. Tapi yang selalu Azam pesan, selagi ada bumbung untuk berteduh, makanan untuk dirasa, pakaian untuk dipakai, kita adalah 3/4 manusia-manusia yang bersyukur dalam dunia ini. Alhaamdulillah.
Mungkin aku terlalu mengharap lebih dari manusia sebab aku sendiri sanggup untuk beri selebih itu, malah lebih dari selebih itu.
Kagum dengan diri sendiri.
